Jumat, 01 Maret 2013

Cinta Rasul

Kajian Islam Cinta Rasul




AKHLAK KEPADA RASUL
Ketika seseorang sudah mengucapkan dua kalimat syahadat, ada banyak konsekuensi yang harus ditunjukkannya dalam hidup ini. Disamping harus berakhlak baik kepada Allah SWT manusia juga harus berakhlak baik kepada Rasulullah SAW. Walaupun beliau sudah wafat dan kita tidak pernah bisa berjumpa dengannya secara fisik, namun keimanan kita kepadanya membuat kita harus berakhlak baik kepadanya. Meskipun demikian, akhlak baik kepada Rasul SAW. tidak bisa kita wujudkan dalam bentuk lahiriyah atau jasmaniyah secara langsung sebagaimana para sahabat telah melakukannya.

Namun demikian, ada banyak hal yang harus kita lakukan sebagai bentuk berakhlak baik kepada Rasulullah SAW.

1.    Ridha Dalam Beriman.

Beriman kepada Rasul merupakan salah satu dari rukun iman. Karena itu, setiap muslim harus ridha dalam beriman kepadanya dan ini akan membuat keimanan terasa menjadi nikmat sehingga apa yang menjadi konsekuensi iman bukan sesuatu yang berat dan tidak menyenangkan untuk membuktikannya, Rasulullah Saw bersabda:

ذَاقَ طَعْمَ اْلإيْمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَباًّ وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِياً وَرَسُوْلاً

Kelezaman iman dirasakan oleh orang yang ridha kepada Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul (HR. Muslim).

2.    Mencintai Rasul.

Setiap muslim yang berakhlak baik kepada Rasul Saw niscaya akan mencintai beliau dalam kehidupan di dunia ini. Kecintaan kepada Rasul merupakan urutan kedua setelah kecintaan kepada Allah Swt sebagaimana firman-Nya di dalam Al-Qur’an:

قُلْ إِنْ كَانَ ءَابَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَجِهَادٍ فِى سَبِيْلِهِ فَتَرَبَّصُوْا حَتىَّ يَأْتِيَ اللهُ بِأَمْرِهِ وَاللهُ لاَيَهْدِى الْقَوْمَ الْفَاسِقِيْنَ

Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiaannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari pada Allah, Rasul-Nya dan (dari) berjijhad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik (QS 9:24).

Bahkan dalam satu hadits beliau bersabda yang menganggap orang yang tidak lebih mencintainya sebagai orang yang tidak beriman:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ نَّفْسِهِ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

Tidak beriman salah seorang diantara kamu sehingga aku lebih dicintai daripada dirinya sendiri, anak serta orang tuanya serta manusia seluruhnya (HR. Bukhari dan Muslim).

3.    Mengikuti dan Mentaati.

Kesiapan untuk mengikuti Rasulullah Saw dalam hidup ini merupakan bentuk akhlak yang mulia kepada beliau, sikap ini merupakan salah satu faktor yang membuat manusia bisa memperoleh kecintaan dari Allah Swt sehingga Diapun akan memberikan ampunan bila kita melakukan kesalahan, Allah Swt berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِى يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Katakanlah (Muhammad): “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS 3:31).

Mengikuti dan mentaati Rasulullah Saw merupakan sesuatu yang bersifat mutlak, karenanya manusia tidak bisa mencapai kemuliaan tanpa ketaatan, untuk itu jangan sampai manusia mendahului ketentuan Allah Swt dan Rasul-Nya, Allah berfirman:

يَآءَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا لاَ تُقَدِّمُوْا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاتَّقُوْا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS 49:1).

Kunci kemuliaan seorang mukmin terletak pada ketaatannya kepada Allah dan rasul-Nya, karena itu para sahabat ingin menjaga citra kemuliaanya dengan mencontohkan kepada kita ketaatan yang luar biasa kepada apa yang ditentukan Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan kepada Rasul  sama kedudukannya dengan taat kepada Allah, karena itu bila manusia tidak mau taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka Rasulullah tidak akan pernah memberikan jaminan pemeliharaan dari azab dan siksa Allah Swt, di dalam Al-Quran, Allah Swt berfirman: 

مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا

Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling, maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka (QS 4:80).


Di dalam ayat lain, Allah Swt berfirman:

يَآءَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا أَطِيْعُ اللهَ وَأَطِيْعُ الرَّسُوْلَ وَلاَ تُبْطِلُوْا أَعْمَالَكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul  dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu (QS 47:33).

Manakala seorang muslim telah mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan memperoleh kenikmatan sebagaimana yang telah diberikan kepada para Nabi, orang yang jujur, orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh, bahkan mereka adalah sebaik-baik teman yang harus kita miliki, Allah Swt berfirman:

وَمَنْ يُّطِعِ اللهَ وَالرَّسُوْلَ فَأُوْلَئِكَ مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ  مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُوْلَئكَ رَفِيْقًا

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul (Nya) mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu nabi-nabi, para shiddiqin, orang yang mati syahid dan orang yang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya (QS 4:69).

Oleh karena itu, ketaatan kepada Rasulullah Saw juga menjadi salah satu kunci untuk bisa masuk ke dalam surga, Rasulullah Saw bersabda:

كُلُّ أُمَّتِى يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى. قِيْلَ: مَنْ يَأْبَى يَارَسُوْلَ اللهِ؟. قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِى دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِى فَقَدْ أَبَى

Semua umatku akan masuk surga, kecuali yang tidak mau. Sahabat bertanya: “Siapa yang tidak mau ya Rasulullah?”. Beliau menjawab: Siapa yang taat kepadaku ia masuk surga dan siapa yang durhaka kepadaku, ia termasuk orang yang tidak mau (HR. Bukhari dari Abu Hurairah ra).

Adapun orang yang tidak mau mengikuti Rasul dengan apa yang dibawanya, yakni ajaran Islam dianggap sebagai orang yang tidak beriman, beliau bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ

Tidak beriman seseorang diantara kamu sehingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (syari’at Islam). (HR. Thabrani).

4.    Bershalawat.

Bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw merupakan sesuatu yang sangat dianjurkan, bahkan diperintah oleh Allah Swt karena Allah Swt dan para malaikat juga bershalawat, hal ini terdapat dalam firman Allah:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam perhormatan kepadanya (QS 33:56).

Bahkan bila kita bershalawat kepada Nabi, maka Allah Swt bershalawat lebih banyak lagi kepada kita hingga sepuluh kali lipat, Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ مَرَّةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا

Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, maka dengan shalawatnya itu Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali lipat (HR. Ahmad).

Bila bershalawat kepada nabi diperintahkan oleh Allah Swt kepada orang-orang yang beriman, maka hal itu menjadi lebih ditekankan lagi untuk dilakukan pada hari Jum’at, Rasulullah Saw, bersabda:

اَكْثِرُو وَالصَّلاَ ةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمْعَةِ فَإ نَّهُ مَشْهُوْدٌ تَشْهَدُهُ الْمَلاَ ئِكَةُ وَاِنَّ اَحَدًا لَنْ يُصَلىِّعَلَىَّ اِلاَّ عُرِضَتْ عَلَىَّ صَلاَتُهُ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْهَا.

“Perbanyaklah shalawat untukku pada hari Jum’at, karena sesungguhnya shalawatmu disaksikan Malaikat dan sesungguhnya seseorang tidaklah membaca shalawat kepadaku melainkan do’a shalawatnya itu ditampakkan kepadaku sampai ia selesai membacanya” (HR Ibnu Majah dari Abi Darda)

Manakala seseorang telah menunjukkan akhlaknya kepada Nabi dengan mengucapkan shalawat, maka orang tersebut akan dinyatakan oleh Rasul Saw sebagai orang yang paling utama kepadanya para hari kiamat, beliau bersabda:

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلاَةً

Sesungguhnya orang byang paling utama kepadaku nanti pada hari kiamat adalah siapa yang paling banyak bershalawat kepadaku (HR. Tirmidzi).

            Oleh karena itu, orang yang tidak mau bershalawat kepada Nabi, apalagi saat namanya disebut, maka ia dianggap sebagai orang yang bakhil atau kikir, hal ini dinyatakan dalam sabda beliau:

أَلْبَخِيْلُ مَنْ ذُكِّرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

Yang benar-benar bakhil adalah orang yang ketika disebut namaku dihadapannya, ia tidak mengucap shalawat kepadaku (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

sumber: ta'lim dan media kajian agama Islam.










5.    Menghidupkan Sunnah Rasul.

Kepada umatnya, Rasulullah Saw tidak mewariskan harta yang banyak, tapi yang beliau wariskan adalah Al-Qur’an dan sunnah. Karena itu, kaum muslimin yang berakhlak baik kepadanya akan selalu berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan sunnah agar tidak sesat dan waspada terhadap kemungkinan dilakukannya bid’ah atau sesuatu yang diada-adakan dalam perkara ubudiyah padahal pada masa Rasul tidak ada, beliau bersabda:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَآءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ تَمَسَّكُوْبِهَاوَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِدِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ    

Sesungguhnya siapa yang hidup sesudahku, akan terjadi banyak pertentangan. Oleh karena itu, kamu semua agar berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para penggantiku. Berpegang teguhlah kepada petunjuk-petunjuk tersebut dan waspadalah kamu kepada sesuatu yang baru, karena setiap yang baru itu bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu di neraka (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, Hakim, Baihaki dan Tirmidzi).

Di dalam hadits yang lain, beliau juga bersabda:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَاتَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِى (رواه أبو داود)

Aku tinggalkan kepada kalian dua hal, yang kalian tidak akan tersesat selamanya bila berpegang teguh dengannya, yaitu: kitab Allah (Al Qur’an) dan Sunnahku (HR. Hakim).

6.    Menghormati Pewaris Rasul.

Berakhlak baik kepada Rasul Saw juga berarti harus menghormati para pewarisnya, yakni para ulama yang konsisten dalam berpegang teguh kepada nilai-nilai Islam, yakni yang takut kepada Allah Swt dengan sebab ilmu yang dimilikinya, Allah Swt berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَآءَ. إِنَّ اللهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (QS 35:28).

Kedudukan ulama yang takut kepada Allah Swt sebagai pewaris Nabi disebutkan dalam sabda Nabi Saw:

وَإِنَّ الْعُلُمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ اْلأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلاَدِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَجَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ  

Dan sesungguhnya ulama adalah pewaris Nabi. Sesungguhnya Nabi tidak mewariskan uang dinar atau dirham, sesungguhnya Nabi hanya mewariskan ilmu kepada mereka, maka barangsiapa yang telah mendapatkannya, berarti telah mengambil bagian yang besar (HR. Abu daud dan Tirmidzi)

Karena ulama disebut sebagai pewaris Nabi, maka orang yang disebut ulama seharusnya tidak hanya memahami tentang beluk beluk agama Islam, tapi juga memiliki sikap dan kepribadian sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi dan ulama seperti inilah yang harus kita hormati. Adapun orang yang dianggap ulama  karena pengetahuan agamanya yang luas, tapi tidak mencerminkan pribadi Nabi, maka orang seperti itu bukanlah ulama yang sesungguhnya dan berarti tidak ada kewajiban bagi kita untuk menghormatinya.

7.    Melanjutkan Misi Rasul.

Misi utama Rasul adalah berdakwah, yakni menyeru dan mengajak manusia untuk beriman dan tunduk kepda Allah Swt. Tugas ini merupakan hal yang amat penting dan dibutuhkan oleh manusia. Orang baik membutuhkan dakwah agar bisa mempertahankan dan meningkatkan kebaikannya, sedangkan orang yang belum baik lebih membutuhkannya lagi agar bisa memperbaiki dirinya. Karena itu dakwah menjadi tugas bagi setiap muslim sebagaimana tercermin dalam hadits Nabi Saw:

بَلِّغُوْا عَنِّى وَلَوْ آيَةً وَحَدِّثُوْا عَنْ بَنِى إِسْرَائِيْلَ وَلاَ حَرَجَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَى مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat (HR. Ahmad, Bukhari dan Tirmidzi).

            Manakala dakwah bisa kita tunaikan dengan sebaik-baiknya, maka kita akan memperoleh derajat yang tinggi di sisi Allah dengan dikelompokkan ke dalam kelompok umat yang terbaik (khairu ummah) sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah (QS 3:110).

            Disamping itu, orang yang berdakwah juga akan memperoleh pahala yang amat besar, hal ini karena dalam satu hadits Rasulullah Saw menyatakan:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرِ فَلَهُ مِثْلُ اَجْرِفَاعِلِهِ.

Barangsiapa yang menunjukkan pada suatu kebaikan, maka baginya seperti pahala orang yang mengerjakannya (HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud dan Tirmudzi).

            Demikian beberapa hal yang harus kita tunjukkan agar kita termasuk orang-orang yang memiliki akhlak yang baik kepada Nabi Muhammad Saw.







Semoga menjadi manfaat dan tambah keimanan kita, serta selalu Cinta akan Rasul Utusan Allah SWT.







Surah Al-Fatihah (Ummul Qur'an)

Surah Al-Fatihah (Ummul Qur'an)
Bacaan & Makna Serta Kelebihan Bila Diamalkannya.


1. Al-Fatihah
 Muqaddimah 

Surat Al-Fatihah (Pembukaan) yang diturunkan di Mekah dan terdiri dari 7 ayat adalah surat yang pertama-tama diturunkan dengan lengkap diantara surat-surat yang ada dalam Al-Qur'an dan termasuk golongan surat Makkiyyah. Surat ini disebut Al-Fatihah (Pembukaan), karena dengan surat inilah dibuka dan dimulainya Al-Qur'an. Dinamakan Ummul Qur'an (induk Al-Qur-an) atau Ummul Kitab (induk Al Kitab) karena dia merupakan induk dari semua isi Al-Qur'an, dan karena itu diwajibkan membacanya pada tiap-tiap sembahyang.
Dinamakan pula As Sab'ul matsaany (tujuh yang berulang-ulang) karena ayatnya tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam sembahyang.

Surat ini mengandung beberapa unsur pokok yang mencerminkan seluruh isi Al-Qur'an, yaitu:

1. Keimanan:
Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa terdapat dalam ayat 2, dimana dinyatakan dengan tegas bahwa segala puji dan ucapan syukur atas suatu nikmat itu bagi Allah, karena Allah adalah Pencipta dan sumber segala nikmat yang terdapat dalam alam ini. Diantara nikmat itu ialah : nikmat menciptakan, nikmat mendidik dan menumbuhkan, sebab kata Rab dalam kalimat Rabbul-'aalamiin tidak hanya berarti Tuhan atau Penguasa, tetapi juga mengandung arti tarbiyah yaitu mendidik dan menumbuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa segala nikmat yang dilihat oleh seseorang dalam dirinya sendiri dan dalam segala alam ini bersumber dari Allah, karena Tuhan-lah Yang Maha Berkuasa di alam ini. Pendidikan, penjagaan dan Penumbuahn oleh Allah di alam ini haruslah diperhatikan dan dipikirkan oleh manusia sedalam-dalamnya, sehingga menjadi sumber pelbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat menambah keyakinan manusia kepada keagungan dan kemuliaan Allah, serta berguna bagi masyarakat. Oleh karena keimanan (ketauhidan) itu merupakan masalah yang pokok, maka didalam surat Al Faatihah tidak cukup dinyatakan dengan isyarat saja, tetapi ditegaskan dan dilengkapi oleh ayat 5, yaitu : Iyyaaka na'budu wa iyyaka nasta'iin (hanya Engkau-lah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan). Janji memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk.

Yang dimaksud dengan Yang Menguasai Hari Pembalasan ialah pada hari itu Allah-lah yang berkuasa, segala sesuatu tunduk kepada kebesaran-Nya sambil mengharap nikmat dan takut kepada siksaan-Nya. Hal ini mengandung arti janji untuk memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk. Ibadat yang terdapat pada ayat 5 semata-mata ditujukan kepada Allah
.

2. Hukum-hukum:
Jalan kebahagiaan dan bagaimana seharusnya menempuh jalan itu untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Maksud "Hidayah" disini ialah hidayah yang menjadi sebab dapatnya keselamatan, kebahagiaan dunia dan akhirat, baik yang mengenai kepercayaan maupun akhlak, hukum-hukum dan pelajaran.


3. Kisah-kisah:
Kisah para Nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang Allah. Sebagian besar dari ayat-ayat Al-Qur'an memuat kisah-kisah para Nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang. Yang dimaksud dengan orang yang diberi nikmat dalam ayat ini, ialah para Nabi, para shiddieqiin (orang-orang yang sungguh-sungguh beriman), syuhadaa' (orang-orang yang mati syahid), shaalihiin (orang-orang yang saleh). Orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat, ialah golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.


Perincian dari yang telah disebutkan diatas terdapat dalam ayat-ayat Al-Qur'an pada surat-surat yang lain.
Penutup 
Surat Al-Fatihah ini melengkapi unsur-unsur pokok syari'at Islam, kemudian dijelaskan perinciannya oleh ayat-ayat Al-Qur'an yang 113 surat berikutnya.

Persesuaian surat ini dengan surat Al-Baqarah dan surat-surat sesudahnya ialah surat Al-Fatihah merupakan titik-titik pembahasan yang akan diperinci dalam surat Al-Baqarah dan surat-surat yang sesudahnya.

Dibagian akhir surat Al-Fatihah disebutkan permohonan hamba supaya diberi petunjuk oleh Tuhan kejalan yang lurus, sedang surat Al-Baqarah dimulai dengan penunjukan Al-Kitab (Al-Qur'an) yang cukup sempurna sebagai pedoman menuju jalan yang dimaksudkan itu.

sumber: media ta'lim dan kajian agama Islam.





Makna Surah Al-Fataihah Dan Kelebihan Mengamalkannya
 
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيم
Bismi Llâhi r-rahmâni r-rahîm
1. "Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani"

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِين
Al-hamdu liLlâhi rabbi l-`âlamîn
2. "Pujian bagi Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan sekalian alam"

ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيم
Ar-rahmâni r-rahîm
3. "Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani"

مَـٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّين
Mâliki yawmi d-dîn
4. "Yang Menguasai pemerintahan hari Pembalasan (hari Akhirat)"

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Iyyâka na`budu wa'iyyâka nasta`în
5. "Engkaulah sahaja (Ya Allah) Yang Kami sembah, dan kepada Engkaulah sahaja kami memohon pertolongan"

ٱهْدِنَا ٱلصِّرَ ٰط ٱلْمُسْتَقِيمَ
Ihdina s-sirâta l-mustaqîm
6. "Tunjukilah kami jalan yang lurus"


صِرَ ٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ
وَلاَ ٱلضَّاۤلِّينَ
Sirâta llazîna an`amta `alayhim
ghayri l-maghdhûbi `alayhim
wala dh-dhâllîn
7. "Yaitu jalan orang-orang yang Engkau telah kurniakan nikmat kepada
mereka, bukan (jalan) orang-orang yang dimurkai ke atas mereka, dan
bukan pula (jalan) orang-orang yang sesat"

Kelebihan Membaca dan Mengamalkan Surah Al-Fatihah.

1.
Dalam hadith yang lain bahawa pernah jibrail a.s sedang duduk berdekatan Rasulullah SAW apabila tiba-tiba, ia mendengar dari atas, yaitu dari langit, satu suara yang benda pecah. Hazrat jibrail A.S. berkata “malaikat tertentu telah turun dari langit yang tidak pernah turun sebelumnya hari ini”. Malaikat ini memberi salam dan berkata “ Wahai Rasulullah SAW semoga tuan diberkati. Tuan telah dianugerahkan dengan dua cahaya yang tidak pernah diberikan kepada seorang Nabi pun sebelum ini. Satu ialah Fatihatul Kitab dan yang kedua ialah dua ayat terakhir Surah Al-Baqarah. Apa saja huruf yang tuan baca daripadanya akan diberi ganjaran.”

2.Amalkan membaca Al-Fatihah semasa hendak tidur,
diikuti membaca surah Al-Ikhlas tiga kali, surah
Al-Falaq dan surah An-Nas. InsyaAllah akan aman
tenteram dan terjauh daripada gangguan syaitan.

3. Bacalah 40 kali
surah ini selepas solat Maghrib dab sunatnya untuk
memohon sesuatu yang baik kepada Allah SWT. Insya Allah
hajatnya akan termakbul (kabul ijabah).

4.
Surah al-Fatihah jika dibaca 41x pada segelas air dan diminum, diusap pada muka, tangan dan kaki orang yang mengidap demam panas, insya Allah akan segera sembuh.

5.Baca dan diamalkan 7x selepas sholat fardu, insyaallah orang yang mengamalnya dihindari dari segala kesusahan hidup.

6.Dibaca surah ini 41x selepas sholat subuh, insya Allah akan mudah mendapat rezeki dan akan disenangi orang apabila bertemu dengannya.

7.Ibn al-Qayyim al-Jauziyah memberitahu yang ia pernah sakit di Mekah, tanpa tabib dan obat. Lalu ía minum air zamzam dan membaca al-Fatihah beberapa kali kemudian minum air zamzam lagi dan akhirnya sembuh dengan izin Allah. Ia akhirnya merawat setiap arang sakit yang menemuinya dengan manfaat yang sama.

8. Kharijah bin As-Salat al-Tamimi meriwayatkan sebuah hadits daripada bapak saudaranya Allaqah bin Sahhar, yang menyatakan dia telah bertemu dengan Rasulullah SAW. Dalam perjalanan pulang dia telah didatangi oleh sekumpulan orang Arab. Mereka ber­kata:
“Kami diberitahu bahwa saudara datang de­ngan membawa kebajikan. Adakah saudara mempunyai obat atau jampi? Kami mempunyai seorang lelaki gila yang dirantai”.
Dia menjawab, “Ya!” lalu ia dibawa menemui lelaki yang dipasung tadi. Pesakit tadi telah dibacakan dengan bacaan Surah Al-Fatihah selama tiga hari berturut-turut, setiap pagi dan petang, dan alhamdulillah sembuh seperti sediakala dengan izin Allah SWT.

Sama-sama kita menghafal dan mengamalkan Surah Al-Fatihah.

sumber: media ta'lim dan kajian agam Islam.